Title : The Banyan Tree

Author : Krisan Faraetty

Genre : Sci-Fi, Angst

Ya, mereka menyebutnya ‘pohon’, walau Dara tidak pernah melihat bentuk nyata dari benda besar tersebut.

Prologue

Pagi kelabu.

Sama seperti hari-hari sebelumnya. Sedikit cahaya, diselimuti kegelapan. Dara sudah terbiasa dengan semua itu. Bukan pagi yang cukup indah untuk menjalankan aktifitas sehari-hari.

Tanpa buang waktu, segera dimasukinya bilik kecil di sudut kamar. Bilik canggih yang berfungsi untuk membersihkan segala kotoran dan patogen dari tubuh. Alat pengganti kegiatan yang kita kenal dengan ‘mandi’ pada berpuluh tahun silam. Sangat efektif – tidak membutuhkan air serta sabun pembersih – dan tidak membutuhkan waktu lama. Praktis.

Dalam sekejap mata, Dara keluar dari bilik dan membuka lemari pakaiannya dan mengambil seragam sekolah. Dara sangat membenci seragam sekolah, karena pakaian itu menutupi semua bagian kulit yang ia miliki, dari pangkal leher hingga ujung-ujung jari. Sama sekali tidak keren dan fashionable. Untuk menghindari kompleksnya pemakaian, seragam cukup digenggam selama 5 detik dan dengan segera akan membungkus tubuh dengan sempurna.

Diliriknya foto-foto yang tergantung di dinding. Itu kakek dan nenek pada saat SMA, mereka menggunakan seragam dari kain yang dingin jika tertiup angin. Seragam mereka bermacam-macam dan penuh warna, sama seperti ekspresi mereka pada setiap foto – sangat menikmati indahnya dunia. Tepat di bawah bingkai foto nenek dan kakek, tergantung rapi foto ayah dan ibu tersenyum di bawah sebatang pohon besar berdaun lebat. Ya, mereka menyebutnya ‘pohon’, walau Dara tidak pernah melihat bentuk nyata dari benda besar tersebut.

“Selamat pagi. Nona Dara, Nona Dara. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.44.39. Segera keluar dari kamar. Sekolah dimulai dalam satu jam tujuh belas menit dua puluh satu detik lagi. Dua puluh detik, sembilan belas detik, delapan belas detik…”

“Selamat pagi Cornett, pesan diterima, tolong jangan terlalu ribut.”

Android berbaju maid itu tersenyum dan membungkukkan badan, kemudian mendekati Dara dan memberikan beberapa butir pil.

“Maafkan saya, tolong segera habiskan ‘makanan’ dan ‘minuman’nya,” Cornett merogoh kantongnya dan menyerahkan sebuah kotak kecil berisi pil pada Dara, ” Ini makan siangnya, Nona. Dan ini kristal-airnya.”

Dara mengucapkan terima kasih dan menelan pil-pil itu. Kotak pil dimasukkannya ke dalam tas sekolahnya.

Saat hendak meninggalkan kamar, Cornett menghentikannya.

“Nona, jangan lupa pakai helmnya! Radiasi di luar sangat besar. Terakhir kali anda tidak memakainya, kulit wajah anda sangat rusak.”

Dara memakai helm transparan yang disodorkan Cornett dengan terpaksa. Dengan menggerutu ia meninggalkan tempat itu.

Lima puluh tahun lalu, tidak mungkin seperti ini…

 

a/n : jangan di-share tanpa izin. jika ingin mem-posting di blog anda, tolong diberikan sumber yang lengkap. komentar sangat dibutuhkan. terimakasih sudah membaca~

About stillnotkrisan

perempuan. 95. sangat berharap blog ini akan berguna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s